Unimus Genjot Publikasi Ilmiah Populer dan Perolehan HKI Dosen

Rektor Unimus Prof. Dr. Masrukhi membuka acara workshop

Semarang | (30/01/2019) Menulis artikel dan karya ilmiah sudah menjadi kebutuhan bagi kaum intelektual, terutama mereka yang menduduki jabatan fungsional seperti dosen. Publikasi ilmiah, teknologi tepat guna, buku ajar dan kekayanaan intelektual juga menjadi paramater kinerja setiap Perguruan Tinggi. Bertolak dari hal tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakta (LPPM) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mengupayakan melalui pelatihan. Kegiatan  dikemas dalam workshop “Penulisan publikasi ilmiah populer di media massa dan penyiapan perolehan HKI hasil penelitian dan pengabdian masyarakat” pada Rabu (30/01/2019). Dikemukakan ketua LPPM Unimus Dr. Dini Cahyandari, workshop bertujuan meningkatkan komitmen dosen dalam menulis dan mempublikasikan ilmu pengetahuan serta karya ilmiah serta meningkatkan capaian perolehan HKI. ]]]

Dr. Sugeng Irianto, M.Pd (Jurnalis Senior Kedaulatan Rakyat) memaparkan materi kiat menulis ilmiah populer di media masa

Digelar di Aula NRC Unimus, workshop buka oleh Rektor Unimus Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.  Prof. Masrukhi menyampaikan bahwa pemeringkatan Unimus berdasar Webometric mengalami kenaikan. “Dari total 6.400 lebih perguruan tinggi di Indonesia, Unimus berada pada urutan 76 dimana pada tahun 2018 kita berada di urutan 90. Kenaikan rangking ini adalah karena karya-karya dosen dan mahasiswa yang dipublikasikan. Saya harap dosen Unimus yang mengikuti pelatihan penulisan artikel populer ini, dapat lebih sering berbagi ilmu melalui tulisan di media masa,  selain penting bagi masyarakat juga akan mengangkat citra Unimus“ ungkapnya.  Sementara itu, terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), peran Unimus di Indonesia selama ini dikenal sebagai institusi pendidikan dan pengajaran, serta sebagai institusi penelitian dan pengabdian pada masyarakat. “Selain memiliki fungsi untuk meningatkan nilai tambah para peserta didik, Unimus juga menghasilkan sumber daya manusia yang terlatih dan terdidik dibidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sehingga dapat menghasilkan kekayaan intelektual” pungkas Prof. Masrukhi.

Hadirkan narasumber Dr. Sugeng Irianto, M.Pd (Jurnalis Senior Kedaulatan Rakyat) dan Dr. Siti Aminah, M.Si (Ketua Pusat Kekayaan Intelektual Unimus) sebagai pembicara kegiatan di hadiri puluhan dosen. Beberapa materi yang dibahas pada kegiatan workshop yaitu: Hak kekayaan intelektual (jenis, persyaratan pengajuan, dan mekanisme pengajuan), pengetahuan umum tentang media massa, karakteristik tulisan ilmiah populer media massa, strategi dan seluk beluk pengiriman dan pemuatan, artikel di media massa, dan klinik artikel serta review artikel. Narasumber pertama Dr. Siti Aminah membagi kiat sukses memperoleh hak paten dan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI). “Sampai saat ini capaian HKI di Unimus masih belum menggembirakan, sampai awal tahun 2019 ada 36 karya dosen yang memiliki sertifikat HKI dan dua puluh ajuan paten. Kedepan di harapkan tiap dosen memiliki minimal satu produk yang memiliki sertifikat HKI tiap tahun” ujar ketua pusat kekayaan intelektual Unimus. “Unimus terus mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta sumber penghasil HKI tersebut melalui berbagai aktivitas riset dan inovasi yang dilakukan” tambahnya.

Sebagian peserta berfoto bersama usai workshop

Sementara Dr. Sugeng Irianto, narasumber kedua membagi kiat menulis publikasi ilmiah populer di media massa. Dikemukakan oleh Dr. Sugeng Irianto, setiap dosen memiliki kemampunan menulis ilmiah populer namun tidak banyak yang meluangkan waktu. Dijelaskan bahwa tulisan ilmiah populer harus memenuhi beberapa kaidah antara lain topik menarik, tidak terlalu teknis, masih up to date di bicarakan dan mengikuti format yang ditentukan. “Agar tulisan ilmiah populer dosen dapat di muat di media masa harus sering membaca, memiliki kemauan, punya kemauan dan melakukan action” papar jurnalis senior. “Untuk bisa sukses menjadi penulis artikel populer maka jeneng dulu baru jenang. Artinya berkarya dulu dengan banyak menulis di berbagai media masa (punya jeneng) baru dapat “jenang” atau pengakuan dari masyarakat.  Sugeng juga membagi strategi pengiriman dan pemuatan artikel di media massa. “Agar tulisan kita dapat di publikasi maka kenali media massa yang di tuju, perhatikan gaya selingkungnya. Perlu juga berusaha dan mengusahakan karena usaha keras yang diawali dengan kebiasaan” tambahnya. “Penting juga memegang etika sebagai penulis media massa dengan tidak mempublikasikan tulisan yang sama di beberapa media masa, pasti akan di black list” terangnya. Di akhir sesi, peserta workshop belajar bersama untuk menyusun artikel ilmiah populer agar siap di publikasikan di media masa.

Reportase UPT Humas dan Keprotokoleran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *